 |
Analogi Injeksi tanpa jarum |
Di dalam dunia Kedokteran dan Kesehatan, tindakan injeksi atau penyuntikan sudah bukan hal yang asing didengar. Dahulu, Istilah Menyuntikkan obat merupakan prosedur invasif yang mencakup memasukkan obat melalui jarum steril yang dimasukkan ke dalam jaringan tubuh. Ada beragam metode dalam menyuntikkan obat ke dalam tubuh manusia, antara lain ; subkutan, intrakutan, intra muskular dan intravena. Beragam metode ini didasarkan pada keragaman karakteristik anatomi jaringan tubuh manusia dan keragaman volume sediaan obat injeksi yang berpengaruh pada kecepatan penyerapan obat dan awitan kerja obat.
Tindakan Injeksi yang merupakan prosedur invasive, bisa membuat pasien kurang nyaman. Perawatan harus dilakukan untuk mengurangi ketidaknyamanan seseorang yang harus bertahan saat menerima jenis injeksi tersebut. Dalam tulisan kami sebelumnya, sudah dibahas “Ada sejumlah cara untuk mengelola suntikan Intra Muskular menjadi sedikit tidak menyakitkan”.
Namun, seiring perkembangan waktu, bersamaan dengan peningkatan harapan hidup yang nyaman serta berkualitas di Dunia. Maka kebanyakan orang lebih memilih tindakan kedokteran yang “minimally Invasif”. Banyak ditemukan masalah yang ditimbulkan dari pemakaian Spuit Injeksi dengan Jarum bagi pasien. Masalah tersebut antara lain :
- Needle Phobia . Fobia jarum (takut akan jarum) mempengaruhi lebih dari 10 persen dari Populasi.
- Expose of Infection. Ada ketakutan tersendiri dari pasien, dimana spuit injeksi dengan jarum yang pernah digunakan pada pasien lain, di daur ulang dan digunakan lagi, sehingga merasa pasien akan berada dalam paparan Infeksi.
- Risk Of Accident. Kemungkinan bahwa injeksi yang tak diharapkan dapat terjadi.
- Environment Problem. Pencemaran lingkungan dengan menggunakan jarum suntik jarum sekali pakai.
- Danger of Lipodystrophy. Suntikan insulin dengan jarum bisa menyebabkan lipodistrofi.
Oleh karena itu diperlukan Alat suntik tanpa jarum yang diharapkan bisa mengurangi masalah masalah Penggunaan Spuit Injeksi dengan Jarum. Kehadiran Alat suntik / Injeksi Tanpa Jarum ini diharapkan juga dapat membantu agar pasien lebih patuh terhadap pengobatan karena kebanyakan pasien berusaha menghindari jarum suntik.
Sejak Tahun 1936 Para peneliti dari beberapa negara maju berusaha mengembangkan teknologi baru yang mampu mengantarkan obat seperti tanpa jarum mulai dari yang sederhana. Semakin bertambah tahun, ditemukan perkembangan alat injeksi bebas / tanpa jarum yang semakin kompleks dan canggih.
Hingga, Pada akhirnya di tahun 1975-1999, dilakukan pengembangan sistem injeksi bebas jarum yang mudah pemakaiannya. Untuk Negara Indonesia, Produk Alat Suntik /Injeksi Tanpa Jarum mulai beredar sejak Tahun 1999. Dahulu masih langka pemakaian Alat suntik /Injeksi Tanpa jarum, karena harga produk yang relatif mahal dan kebutuhan masyarakat Indonesia akan alat suntik tanpa jarum belum begitu tinggi. Namun, seiring berkembangnya waktu, jenis penyakit yang memerlukan injeksi obat secara rutin semakin meningkat angka kejadiannya. Jumlah pasien yang mengalami penyakit kronis dan butuh menyuntikkan obat secara rutin juga meningkat, contohnya Diabetes Melitus. Sehingga diperlukan produk alat Injeksi Tanpa Jarum yang harganya relatif terjangkau dan lebih mudah digunakan secara aman dan nyaman.
 |
Perbandingan injeksi konvensional dengan bebas jarum |
Sejak tahun 2010 hingga Saat ini, di Indonesia, ada salah satu contoh produk Alat suntik / Injeksi Tanpa Jarum yang harganya relatif terjangkau dan bisa dibilang lebih murah dari kebanyakan produk lainnya, yaitu Comfort In. Comfort In merupakan alat dengan sistem Injeksi Tanpa Jarum (Needle-Free Injection System), yang mampu menyalurkan obat cair dalam kecepatan tinggi, menghasilkan sebuah “jet cairan” yang berpenetrasi ke dalam kulit , memberikan pengobatan melalui kulit dalam waktu kurang dari 1/3 detik dengan tekanan 3900 psi.
 |
Perbandingan penetrasi injeksi |
Dalam setiap pembelian produk baru comfort in, akan dilengkapi dengan beberapa komponen seperti : Pressure leveler, Vial adapter, Nozzle /Nosel (ampul). Sedangkan untuk aplikasi penyuntikan anestesi pada tindakan dental (gigi), ada komponen tambahan seperti ; nozzle cap, cartridge adapter dengan dental syringe. Serta ada komponen Cartridge adapter untuk Insulin cartridge dan Luer adaptor untuk menarik obat cair dari berbagai ampul kaca atau beragam vial yang sudah pernah kontak dengan Jarum Suntik sekali pakai (Disposable syringe needle). Produk Comfort In termasuk istimewa karena memang memiliki beberapa manfaat dan memberi banyak keuntungan antara lain ;
- Bebas / Tanpa Jarum
- Pemberian pengobatan yang hampir tanpa rasa sakit
- Bisa melakukan injeksi subkutan beragam obat cair
- Nyaman untuk pemberian dosis yang bervariasi sampai 50 unit/0,5 mL
- Penggunaan yang mudah dan aman, serta efeknya cepat
- Tidak ada resiko cedera akibat jarum suntik
- Meng-eliminasi Kontaminasi silang
- Mengurangi biaya pembuangan sampah
- Alat yang berbahan Kompak dan dapat digunakan di mana saja
- Mudah dioperasikan oleh siapa saja dengan latihan sederhana
- Umur alat bisa panjang dimana minimal bisa dipakai hingga 10.000 suntikan, tentunya bila dilakukan perawatan secara benar.
A. Berikut beberapa contoh penggunaan Comfort In untuk pelayanan kesehatan.
 |
Daftar kegunaan injektor tanpa jarum di kesehatan |
 |
Contoh pemakaian injektor tanpa jarum di Kedokteran gigi |
B. Sistem Injeksi Tanpa/Bebas Jarum dan Proses Uji Klinis Vaksin atau kandidat Vaksin COVID 19
Mulai Awal Oktober 2020, Sudah berjalan proses Uji Klinis ( Clinical Trial) di beberapa negara maju, Sistem injeksi tanpa jarum ( needle free jet injector ) yang akan memfasilitasi pengiriman cairan obat vaksin untuk melawan SARS-CoV-2 ( virus penyebab pandemi COVID 19 ).
Review ( Tinjauan ) Uji Coba Vaksin COVID 19 di ClinicalTrials.gov menunjukkan bahwa, untuk 17 sampel penelitian , metode pemberian dikutip berikut :
- Injeksi Intramuskukar ( 9 studi)
- Injeksi intradermal ( 2 studi )
- Injeksi Subkutan ( 2 studi )
- Elektropolasi melalui Cellectra 2000 ( 1 studi [INO-4800] )
- Infus IV ( 1 studi )
- Tidak dikutip ( 2 studi )
Sementara, menurut Laporan The Lancet, sudah ada 10 kandidat vaksin SARS Cov 2 ( COVID 19 ) dalam uji klinis per Juni 2020, antara lain ;
- Vaksin span mRNA ( mRNA-1273 ( Moderna dan NIAD ) dan BNT162 ( BioNTech dan Pfizer ), dengan mekanisme vaksin RNA, diberikan
dalam 2 dosis pada hari ke 0 dan ke 28.
- Vaksin DNA ( INO-4800 Inovio Pharmaceuticals ),
- Virus inactive / tidak aktif ( Wuhan Institute Of Biological Products and Sinopharm ), dengan
mekanisme virus yang di inaktifkan, diberikan dalam 2 dosis
pada hari ke 0 dan ke 21.
- Subunit protein ( NVX-CoV2373 (Novavax)) , diberikan
dalam 2 dosis pada hari ke 0 dan ke 28
- dan vaksin Adenovirus (AZD1222 dari Universitas Oxford dan Astra Zeneca), dengan mekanisme non
replikasi viral vektor , diberikan dalam 1 dosis.
Jelas bahwa keputusan untuk mengadopsi teknologi tanpa jarum adalah keputusan yang penting dan bukannya tanpa risiko. Selain risiko pengembangan dan penskalaan (berlaku untuk teknologi medis baru apa pun) ada juga pertanyaan apakah semua vaksin benar-benar sesuai dengan efisiensi pengiriman intradermal.
 |
Perbandingan distribusi cairan obat dengan needle free injector yang lebih efektif daripada jarum konvensional |
Dalam hal pengembangan dan penskalaan teknis, Tim, dalam lebih dari 30 tahun, telah menyelidiki platform alat suntik bebas /tanpa jarum dan melihat hasil klinis yang menggembirakan, serta persetujuan yang diperoleh. Dengan investasi yang cukup, sangat mungkin untuk menskalakan teknologi agar siap untuk mengirimkan vaksin baru dalam skala besar. Tantangan utamanya adalah ketersediaan sistem pengisian skala besar dan tentunya pasokan kartrid vaksin khusus. Sangat mungkin bahwa sistem pengisian yang ada dan tersedia semuanya akan dikonfigurasi untuk mengisi jarum suntik atau botol 'standar' yang dapat diisi ulang. Diperlukan waktu 18 bulan dan investasi yang signifikan untuk menyiapkan produksi volume tinggi dan kapasitas pengisian untuk kapsul bebas /tanpa jarum, tetapi ini masih sepadan dengan 18 bulan yang menurut para ahli vaksin kemungkinan besar untuk vaksin COVID 19 untuk dikembangkan.
Dalam hal kemanjuran vaksin di bawah pemberian intradermal, buletin WHO dari 2011 menyatakan bahwa “Vaksin yang dilemahkan hidup telah berhasil dikirimkan secara intradermal dan harus menjadi kandidat yang baik asalkan formulasi yang sesuai dapat dikembangkan. Dosis yang dikurangi dari vaksin whole-virion yang dilemahkan juga menunjukkan imunogenisitas yang memuaskan ketika diberikan secara intradermal. Vaksin influenza virion utuh yang dilemahkan mungkin juga cocok karena memiliki urutan stimulasi kekebalan intrinsik, yang mungkin menghindari kebutuhan tambahan adjuvan ” . Dengan investasi yang tepat waktu, sistem tanpa jarum bervolume rendah dapat dikembangkan lebih cepat bagi para peneliti untuk digunakan dalam uji coba vaksin, memungkinkan kemanjuran vaksin dengan pengiriman tanpa jarum intradermal dapat didemonstrasikan sejak awal.
 |
Jenis produk vaksin yang sudah dan sedang menjalani Uji Klinis menurut data WHO per 29 Desember 2020 |
Pemerintah, lembaga internasional, dan perusahaan teknologi telah menginvestasikan sejumlah besar uang untuk program pengembangan vaksin dan sistem pengiriman terkait. Dengan koordinasi yang memadai di seluruh pemangku kepentingan, sistem pengiriman vaksin yang andal, bebas /tanpa jarum, dan efisien dosis merupakan konsep yang sangat layak yang harus dipertimbangkan.
Terkhusus di Negara tercinta kita, Indonesia, dalam rangka pelaksanaan vaksinasi Coid-19, Menteri Kesehatan RI menetapkan jenis vaksin, dengan memperhatikan pertimbangan Komite Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/9860/2020 Tentang Penetapan Jenis Vaksin Untuk Pelaksanaan Vaksinasi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Adapun point dari Keputusan Menteri Kesehatan ini adalah :
- Penggunaan vaksin dalam pelaksanaan vaksinasi hanya dapat dilakukan setelah mendapat izin edar atau persetujuan penggunaan pada masa darurat dari BPOM.
- Menteri Kesehatan dapat melakukan perubahan jenis vaksin Covid-19.
- Pengadaan vaksin untuk kebutuhan pelaksanaan vaksinasi program dilakukan oleh menteri kesehatan.
- Pengadaan vaksin untuk kebutuhan pelaksanaan vaksinasi mandiri dilakukan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara.
- Keputusan ini berlaku mulai tanggal 3 Desember 2020.
 |
Jenis 7 Produk Vaksin Yang disetujui kemenkes RI untuk vaksinasi covid 19 di Indonesia
|
- Jenis vaksin Covid-19 yang dapat digunakan untuk pelaksanaan vaksinasi di Indonesia, antara lain :
1. Vaksin Merah Putih.
Vaksin Merah Putih merupakan hasil kerja sama antara BUMN PT Bio Farma (Persero) dan Lembaga Eijkman Institute. Pemerintah berharap vaksin Merah Putih dapat selesai pada akhir 2021.
.
2. AstraZeneca.
Uji coba yang dilakukan AstraZeneca dan Universitas Oxford menunjukkan vaksin virus corona produksinya memiliki keefektifan rata-rata 70 persen. Saat ini uji coba pada 20.000 sukarelawan masih berlanjut. Vaksin AstraZeneca dianggap mudah didistribusikan karena tidak perlu disimpan pada suhu yang sangat dingin.
3. China National Pharmaceutical Group Corporation (Sinopharm).
Meski pengujian tahap akhir belum selesai, namun di China, kurang lebih satu juta orang telah disuntik menggunakan vaksin ini di bawah izin penggunaan darurat. Sebelum vaksin Sinopharm terbukti berhasil seluruhnya, vaksin hanya digunakan pada pejabat China, pelajar, dan pekerja yang bepergian. Pada September 2020, Uni Emirat Arab menjadi negara pertama di luar China yang menyetujui penggunaan vaksin ini.
4. Moderna.
Moderna mengklaim vaksin produksinya memiliki efektivitas sebesar 94,5 persen. Pada akhir November lalu Moderna mengaku telah mengajukan izin penggunaan darurat untuk vaksin Covid-19 kepada regulator Amerika Serikat dan Eropa. Moderna meyakini vaksin buatannya telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan BPOM AS (FDA) untuk penggunaan darurat.
5. Pfizer Inc and BioNTech.
Vaksin yang diproduksi Pfizer dan BioNTech telah mengajukan penggunaan darurat vaksin virus corona yang diproduksinya ke BPOM AS dan Eropa. Pada uji coba terakhir, 18 November 2020, mereka mengklaim 95 persen vaksinya efektif menangkal virus corona dan tidak menimbulkan risiko masalah keamanan.
6. Novavax.
Merupakan Vaksin buatan Negara Kanada, dengan nama NVX-CoV2373. Rencana pembeliannya, sebanyak 50 Juta Dosis. Diproduksi oleh Perusahaan bioteknologi asal Maryland, Amerika Serikat. Ditargetkan selesai pada Kuartal III hingga IV pada 2021.
7. Sinovac Biotech Ltd.
CoronaVac saat ini memasuki uji coba fase 3. Sinovac melakukan uji coba terhadap vaksin buatannya di Brasil, Indonesia, hingga Bangladesh. Hasil awal, sebagaimana yang terbit di Science, pada monyet menunjukkan vaksin menghasilkan antibodi yang menetralkan 10 galur Sars-coV-2. PT Bio Farma juga menjalin kerja sama dengan perusahaan vaksin asal China, Sinovac Biotech ini.